Ada beberapa
kebiasaan yang terjadi dimasyarakat kita, walaupun tidak sepenuhnya
salah tetapi nilai-nilai latar belakang yang sebenarnya salah dipahami
oleh masyarakat kita. Diantaranya :
1. Kerokan
1. Kerokan
Kerokan mungkin
bisa dikatakan salah satu alternatif kesehatan asli indonesia. Memang kerokan adalah
warisan budaya nenek moyang kita yang awalnya hal ini adalah sugesti belaka.
Namun kenapa hal ini masih dipercayai? Mari kita simak beberapa logikanya.
Kerokan pada saat kita demam (meriang, masuk angin, panas dalam) kadangkala
memberikan solusi memang, hal ini disebabkan oleh:
-
Pada saat kita demam sebenarnya yang terjadi
adalah pembakaran tubuh kita menurun karena over aktivitas/kekurangan energi. Nah
pada saat dikerok tubuh kita sebenarnya bereaksi terhadap gesekan-gesekan
tersebut (ingat ilmu einstein E=MC2) dan merasakan panas disekitar yang dikerok,
hal inilah yang menyebabkan pembakaran tubuh kita bereaksi kembali.
-
Nah mengenai bekas merah yang keluar sebenarnya
bukan karena angin yang banyak keluar, tetapi itu adalah reaksi normal kulit
kita yang merespon kondisi itu. Artinya adalah tidak dalam posisi sakitpun
kalau kulit kita dikerok, dicubit atau “maaf” leher kita pada saat diciumi,
pasti kulit akan bereaksi merah. Hal ini terjadi karena terjadi konsentrasi
darah yang terjadi didalam pembuluh darah kapiler area itu. Jadi sebenarnya yang
salah bukan pada tindakan kerokannya tetapi lebih pada pemahamannya.
-
Mengenai perasaan segar setelah dikerok, hal itu
sebenarnya bukan karena anginya sudah keluar, (karena dalam istilah kedokteran
masuk angin bukan arti secara harfiah) Tetapi hal itu biasanya terjadi karena
tubuh kita terlalu lama terpapar udara sehingga pemasanan tubuh tidak mampu
untuk mengimbangi suhu dingin dari luar yang menyebabkan pemanasaan tubuh
menurun. Dan tindakan kerokan sebenarnya hanya membantu proses pengembalian
pemanasan tubuh melalui respon kulit yang terasa panas pada saat dikerok
(einstein mengatakan energi terjadi karena gesekan dua benda E=MC2). Hal ini
bisa dianalogikan tubuh kita dalam kondisi seperti hewan berdarah dingin (ular,
buaya, iguana,dll) yang tidak bisa menghasilkan panas tubuh dari dalam dan
memerlukan bantuan dari luar.
2. Mandi
malam hari
Mandi pada malam
hari dipercaya oleh beberapa masyarakat bisa menyebabkan rematik. Padahal kalau
ditelaah lebih jauh apabila memakai logika terbut, maka orang dinegara-negara
bersuhu dingin yang sering mandi air dingin lebih beresiko rematik dong? Tetapi
hal ini tidak terjadi. Sugesti ini muncul karena orang-orang tua kita sering
menyuruh mandi anaknya sebelum maghrib. Karena susah menggunakan alasan sholat
maghrib, maka menggunakan alasan yang mudah diterima anak-anak yaitu penyakit. Namun
saat ini pemahaman itu semakin menyebar tanpa mempunyai latar belakang. Orang
lebih memilih tidak mandi atau mandi air hangat. Mandi malam hari sebenarnya
diperlukan pada saat orang selesai beraktivitas seharian penuh, karena hal itu
dapat mengembalikan kesegaran otot-otot
yang meregang seharian. Disamping itu
akan merangsang sel-sel otak untuk lebih rileks, sehingga pada saat tidur akan
terasa lebih nyenyak.
3. Mandi
air hangat
Mandi air hangat
memang memberi kenikmatan tersendiri pada suasana hawa dingin/malam hari. Hal ini
dipahami oleh beberapa orang yang akhirnya dijadikan kebiasaan setelah
beraktivitas. Hal ini sebenarnya tidak begitu banyak membawa manfaat bagi tubuh
kita apabila dilakukan melebih intensitas mandi air dingin. Mandi air hangat
lebih banyak sisi negatifnya dibandingkan mandi air dingin. Di beberapa artikel
tentang mandi, juga diuraikan lebih banyak hal yang merugikan kebiasaan mandi
air hangat. Namun saya akan memberikan satu akibat yang merugikan kebiasaan
mandi air hangat yaitu mempercepat proses penuaan kulit. Hal ini didasarkan
pada sifat kulit kita yang elastis, akan semakin kendor apabila sering disiram
dengan air hangat dan sebaliknya semakin sering disiram dengan air dingin maka
kekencangan kulit akan lebih terjaga.
4. Sering
gosok gigi
Aktivitas menggosok
gigi memang sangat disarankan didunia kesehatan. Tetapi tahukan anda dibalik
kebiasaan menyikat gigi yang berlebihan. Dengan banyaknya produk pasta gigi
saat ini kebiasaan menggosok gigi yang berlebihan akan menyebabkan gigi cepat
keropos. Kenapa hal ini terjadi? Asumsi bahwa sering menggosok gigi ,memakai
pasta gigi yang banyak, dan intensitas waktu yang lama adalah pemahaman yang salah.
Hal ini karena sebagian besar kandungan dalam pasta gigi adalah polishing
(penggosok). Kandungan ini bersifat korosi yaitu berfungsi untuk membersihkan
sisa-sisa makanan yang tertinggal dalam gigi. Namun kandungan ini akan
berbahaya apabila digunakan dalam jumlah banyak dan waktu berlebih, karena
kondisi masing-masing orang berbeda. Artinya penyebab gigi keropos bukan hanya
terjadi karena kotoran, tetapi juga karena sering menggosok gigi. Jadi menggosok
gigi yang aman adalah dengan memakai pasta sebatas ujung sikat dan waktu
sesingkat mungkin disesuaikan dengan kondisi mulut.
5. Demam
tidak boleh mandi
Pada saat orang
mengalami demam pertama biasanya oleh keluarga tidak dianjurkan untuk mandi
tetapi tidur saja. Hal ini tidak sepenuhnya benar karena bisa-bisa malah terjadi
sakit sesungguhnya. Pada prinsipnya orang yang demam dikarenakan proses
pembakaran tubuh menurun, apabila hal ini diteruskan untuk tidur maka proses
pembakaran justru semakin menurun dan orang tersebut cenderung semakin sakit. Tetapi
bila kondisi awal tersebut tubuh dikondisikan untuk mandi sebenarnya tubuh akan
berekasi terhadap suhu dingin tersebut sehingga merangsang untuk menimbulkan
pemanasan tubuh. Memang hal ini tidak dianjurkan oleh dokter karena mereka
terikat etika kedokteran yang menilai respon masing-masing tubuh manusia
berbeda.
6. Naik
motor pakai pelindung dada
Banyak kita
jumpai pengendara sepeda motor melengkapi dada mereka dengan pelindung dada
layaknya body protektor pada pengendara motocross. Namun justru wajah dibiarkan
terbuka dan terjadi kontak langsung dengan hembusan angin. Pemahaman pelindung
dada supaya tidak masuk angin adalah hal yang sama sekali salah. Tetapi bukan
berarti pelindung dada tidak bermanfaat. Benda itu juga bermanfaat untuk
melindungi tubuh dari hawa dingin. Namun dengan membiarkan wajah pada posisi
terbuka dan terkena kontak langsung dengan hembusan angin, justru hal ini yang
membahayakan apabila hal itu terjadi pada malam hari dengan intensitas yang
tinggi. Pada resiko yang paling rendah hal ini menyebabkan demam (masuk angin ;istilah
umum) tetapi pada resiko yang paling tinggi hal ini akan menyebabkan paru-paru
basah karena akumulasi uap air yang terhirup secara langsung dan terus-menerus tanpa
adanya proses penguapan lagi dari dalam tubuh, karena hal ini terjadi pada
malam hari biasanya orang langsung tidur.
7. Amblas
dan Ambles
Pada
tayangan
beberapa televisi dalam negeri, sering kita jumpai berita mengenai
penurunan
permukaan tanah. Sering terjadi salah penyampaian baik reporter maupun
teks
keterangan berita dengan kata-kata “AMBLAS”. Kata ini sebenarnya disadur
dari
bahasa jawa. Pemakaian kata “amblas” untuk mengartikan penurunan
permukaan
tanah yang turun adalah SALAH BESAR, yang benar adalah ambles. Karena
masing
masing kata itu memang berasal dari bahasa jawa dan mempunyai arti
sendiri-sendiri. AMBLAS = Hilang
karena terbawa... (biasanya digunakan untuk mengasumsikan sesuatu yang
negatif).
Contoh : nangdi wedhusmu? Amblas wes digondol maling. (dimana kambingmu?
Hilang
sudah dibawa maling) AMBLES = Turun secara tiba-tiba (sesuatu yang turun
secara
tiba-tiba, biasanya mengasumsikan tanah) contoh : gara-gara udan terus,
lemahe
akeh sing ambles (gara-gara hujan terus, tanahnya banyak yang turun).
Akhirnya karena kata ambles lebih mempunyai arti kata yang lebih
spesifik sehingga sering digunakan dalam bahasa indonesia (contoh :
gara-gara hujan terus, tanah banyak yang ambles).
Tetapi karena menggunakan aturan serapan bahasa jawa ke bahasa indonesia, dimana akhiran "e" diganti "a" (males menjadi malas, kerep menjadi kerap) hal ini tidaklah tepat karena masing-masing kata mempunyai arti sendiri-sendiri sehingga diperlukan pengecualian. Seperti halnya saduran ruwet, budheg, sumpek.
Tetapi karena menggunakan aturan serapan bahasa jawa ke bahasa indonesia, dimana akhiran "e" diganti "a" (males menjadi malas, kerep menjadi kerap) hal ini tidaklah tepat karena masing-masing kata mempunyai arti sendiri-sendiri sehingga diperlukan pengecualian. Seperti halnya saduran ruwet, budheg, sumpek.
Semoga
hal ini bisa menjadi koreksi bagi kita semua. Semoga bermanfaat.....................







Nice info, cuma mau menambahkan kebiasaan lainnya yg sering keliru seperti Menjilat bibir yang kering, Memanaskan makanan, Meniup makanan panas, Makan buah sebagai pencuci mulut. Alasannya kenapa bisa baca lengkap artikelnya di udoctor.co.id
BalasHapusSumber: udoctor.co.id