Rabu, 16 April 2014

7 KEBIASAAN SALAH KAPRAH



Ada beberapa kebiasaan yang terjadi dimasyarakat kita, walaupun tidak sepenuhnya salah tetapi nilai-nilai latar belakang yang sebenarnya salah dipahami oleh masyarakat kita. Diantaranya : 
1.      Kerokan
Kerokan mungkin bisa dikatakan salah satu alternatif kesehatan asli indonesia. Memang kerokan adalah warisan budaya nenek moyang kita yang awalnya hal ini adalah sugesti belaka. Namun kenapa hal ini masih dipercayai? Mari kita simak beberapa logikanya. Kerokan pada saat kita demam (meriang, masuk angin, panas dalam) kadangkala memberikan solusi memang, hal ini disebabkan oleh:
-        Pada saat kita demam sebenarnya yang terjadi adalah pembakaran tubuh kita menurun karena over aktivitas/kekurangan energi. Nah pada saat dikerok tubuh kita sebenarnya bereaksi terhadap gesekan-gesekan tersebut (ingat ilmu einstein E=MC2) dan merasakan panas disekitar yang dikerok, hal inilah yang menyebabkan pembakaran tubuh kita bereaksi kembali.
-        Nah mengenai bekas merah yang keluar sebenarnya bukan karena angin yang banyak keluar, tetapi itu adalah reaksi normal kulit kita yang merespon kondisi itu. Artinya adalah tidak dalam posisi sakitpun kalau kulit kita dikerok, dicubit atau “maaf” leher kita pada saat diciumi, pasti kulit akan bereaksi merah. Hal ini terjadi karena terjadi konsentrasi darah yang terjadi didalam pembuluh darah kapiler area itu. Jadi sebenarnya yang salah bukan pada tindakan kerokannya tetapi lebih pada pemahamannya.
-        Mengenai perasaan segar setelah dikerok, hal itu sebenarnya bukan karena anginya sudah keluar, (karena dalam istilah kedokteran masuk angin bukan arti secara harfiah) Tetapi hal itu biasanya terjadi karena tubuh kita terlalu lama terpapar udara sehingga pemasanan tubuh tidak mampu untuk mengimbangi suhu dingin dari luar yang menyebabkan pemanasaan tubuh menurun. Dan tindakan kerokan sebenarnya hanya membantu proses pengembalian pemanasan tubuh melalui respon kulit yang terasa panas pada saat dikerok (einstein mengatakan energi terjadi karena gesekan dua benda E=MC2). Hal ini bisa dianalogikan tubuh kita dalam kondisi seperti hewan berdarah dingin (ular, buaya, iguana,dll) yang tidak bisa menghasilkan panas tubuh dari dalam dan memerlukan bantuan dari luar.
      2.      Mandi malam hari
Mandi pada malam hari dipercaya oleh beberapa masyarakat bisa menyebabkan rematik. Padahal kalau ditelaah lebih jauh apabila memakai logika terbut, maka orang dinegara-negara bersuhu dingin yang sering mandi air dingin lebih beresiko rematik dong? Tetapi hal ini tidak terjadi. Sugesti ini muncul karena orang-orang tua kita sering menyuruh mandi anaknya sebelum maghrib. Karena susah menggunakan alasan sholat maghrib, maka menggunakan alasan yang mudah diterima anak-anak yaitu penyakit. Namun saat ini pemahaman itu semakin menyebar tanpa mempunyai latar belakang. Orang lebih memilih tidak mandi atau mandi air hangat. Mandi malam hari sebenarnya diperlukan pada saat orang selesai beraktivitas seharian penuh, karena hal itu dapat mengembalikan  kesegaran otot-otot yang  meregang seharian. Disamping itu akan merangsang sel-sel otak untuk lebih rileks, sehingga pada saat tidur akan terasa lebih nyenyak.
      3.      Mandi air hangat
Mandi air hangat memang memberi kenikmatan tersendiri pada suasana hawa dingin/malam hari. Hal ini dipahami oleh beberapa orang yang akhirnya dijadikan kebiasaan setelah beraktivitas. Hal ini sebenarnya tidak begitu banyak membawa manfaat bagi tubuh kita apabila dilakukan melebih intensitas mandi air dingin. Mandi air hangat lebih banyak sisi negatifnya dibandingkan mandi air dingin. Di beberapa artikel tentang mandi, juga diuraikan lebih banyak hal yang merugikan kebiasaan mandi air hangat. Namun saya akan memberikan satu akibat yang merugikan kebiasaan mandi air hangat yaitu mempercepat proses penuaan kulit. Hal ini didasarkan pada sifat kulit kita yang elastis, akan semakin kendor apabila sering disiram dengan air hangat dan sebaliknya semakin sering disiram dengan air dingin maka kekencangan kulit akan lebih terjaga.
      4.      Sering gosok gigi
Aktivitas menggosok gigi memang sangat disarankan didunia kesehatan. Tetapi tahukan anda dibalik kebiasaan menyikat gigi yang berlebihan. Dengan banyaknya produk pasta gigi saat ini kebiasaan menggosok gigi yang berlebihan akan menyebabkan gigi cepat keropos. Kenapa hal ini terjadi? Asumsi bahwa sering menggosok gigi ,memakai pasta gigi yang banyak, dan intensitas waktu yang lama adalah pemahaman yang salah. Hal ini karena sebagian besar kandungan dalam pasta gigi adalah polishing (penggosok). Kandungan ini bersifat korosi yaitu berfungsi untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang tertinggal dalam gigi. Namun kandungan ini akan berbahaya apabila digunakan dalam jumlah banyak dan waktu berlebih, karena kondisi masing-masing orang berbeda. Artinya penyebab gigi keropos bukan hanya terjadi karena kotoran, tetapi juga karena sering menggosok gigi. Jadi menggosok gigi yang aman adalah dengan memakai pasta sebatas ujung sikat dan waktu sesingkat mungkin disesuaikan dengan kondisi mulut.
      5.      Demam tidak boleh mandi
Pada saat orang mengalami demam pertama biasanya oleh keluarga tidak dianjurkan untuk mandi tetapi tidur saja. Hal ini tidak sepenuhnya benar karena bisa-bisa malah terjadi sakit sesungguhnya. Pada prinsipnya orang yang demam dikarenakan proses pembakaran tubuh menurun, apabila hal ini diteruskan untuk tidur maka proses pembakaran justru semakin menurun dan orang tersebut cenderung semakin sakit. Tetapi bila kondisi awal tersebut tubuh dikondisikan untuk mandi sebenarnya tubuh akan berekasi terhadap suhu dingin tersebut sehingga merangsang untuk menimbulkan pemanasan tubuh. Memang hal ini tidak dianjurkan oleh dokter karena mereka terikat etika kedokteran yang menilai respon masing-masing tubuh manusia berbeda.
      6.      Naik motor pakai pelindung dada
Banyak kita jumpai pengendara sepeda motor melengkapi dada mereka dengan pelindung dada layaknya body protektor pada pengendara motocross. Namun justru wajah dibiarkan terbuka dan terjadi kontak langsung dengan hembusan angin. Pemahaman pelindung dada supaya tidak masuk angin adalah hal yang sama sekali salah. Tetapi bukan berarti pelindung dada tidak bermanfaat. Benda itu juga bermanfaat untuk melindungi tubuh dari hawa dingin. Namun dengan membiarkan wajah pada posisi terbuka dan terkena kontak langsung dengan hembusan angin, justru hal ini yang membahayakan apabila hal itu terjadi pada malam hari dengan intensitas yang tinggi. Pada resiko yang paling rendah hal ini menyebabkan demam (masuk angin ;istilah umum) tetapi pada resiko yang paling tinggi hal ini akan menyebabkan paru-paru basah karena akumulasi uap air yang terhirup secara langsung dan terus-menerus tanpa adanya proses penguapan lagi dari dalam tubuh, karena hal ini terjadi pada malam hari biasanya orang langsung tidur.
      7.     Amblas dan Ambles
Pada tayangan beberapa televisi dalam negeri, sering kita jumpai berita mengenai penurunan permukaan tanah. Sering terjadi salah penyampaian baik reporter maupun teks keterangan berita dengan kata-kata “AMBLAS”. Kata ini sebenarnya disadur dari bahasa jawa. Pemakaian kata “amblas” untuk mengartikan penurunan permukaan tanah yang turun adalah SALAH BESAR, yang benar adalah ambles. Karena masing masing kata itu memang berasal dari bahasa jawa dan mempunyai arti sendiri-sendiri. AMBLAS = Hilang karena terbawa... (biasanya digunakan untuk mengasumsikan sesuatu yang negatif). Contoh : nangdi wedhusmu? Amblas wes digondol maling. (dimana kambingmu? Hilang sudah dibawa maling) AMBLES = Turun secara tiba-tiba (sesuatu yang turun secara tiba-tiba, biasanya mengasumsikan tanah) contoh : gara-gara udan terus, lemahe akeh sing ambles (gara-gara hujan terus, tanahnya banyak yang turun). Akhirnya karena kata ambles lebih mempunyai arti kata yang lebih spesifik sehingga sering digunakan dalam bahasa indonesia (contoh : gara-gara hujan terus, tanah banyak yang ambles).
Tetapi karena menggunakan aturan serapan bahasa jawa ke bahasa indonesia, dimana akhiran "e" diganti "a" (males menjadi malas, kerep menjadi kerap) hal ini tidaklah tepat karena masing-masing kata mempunyai arti sendiri-sendiri sehingga diperlukan pengecualian. Seperti halnya saduran ruwet, budheg, sumpek.
Semoga hal ini bisa menjadi koreksi bagi kita semua. Semoga bermanfaat.....................

1 komentar:

  1. Nice info, cuma mau menambahkan kebiasaan lainnya yg sering keliru seperti Menjilat bibir yang kering, Memanaskan makanan, Meniup makanan panas, Makan buah sebagai pencuci mulut. Alasannya kenapa bisa baca lengkap artikelnya di udoctor.co.id

    Sumber: udoctor.co.id

    BalasHapus