Rabu, 16 April 2014

MENGAPA INDONESIA SULIT MENJADI NEGARA MAJU




7 Alasan Mengapa Bangsa Indonesia Sulit menjadi Negara maju.

Hal ini mengusik hati saya untuk mengulasnya agar menjadi suatu perenungan bagi kita semua. Karena kita tahu dan sering mendengar bahwa bangsa Indonesia mempunyai banyak kepulauan, sebagian besar adalah lautan (Sumber Alam Terbesar), banyak suku bangsa, banyak bahasa daerah, dll. Akan tetapi setiap kita berakhir dengan sebuah pertanyaan mengapa bangsa indonesia sulit menjadi negara maju? Nah disini akan saya tuangkan beberapa analisa pemikiran saya :
      1.      PARADIGMA IMPERIALISME
Dalam budaya kita banyak warisan dari imperialisme jaman dulu yang sebenarnya dikondisikan untuk membelenggu pola pikir masyarakat supaya tidak mempunyai imajinasi. Namun dengan kemerdekaan yang telah diperoleh pemikiran tersebut masih dipertahankan. Sebagai contoh :
-        MANGAN GA MANGAN POKOK KUMPUL (makan tidak makan asal kumpul), ungkapan demikian sebenarnya adalah doktrin yang tidak kita sadari dibentuk oleh kolonialisme jaman dahulu supaya kita tetap menerima keadaan apa adanya dan berserah diri pada yang Kuasa tanpa harus menghadapi resiko.
-        Menjadi Pegawai Negeri. Dan yang lebih parah lagi, hal tersebut digunakan sebagai pembenaran beberapa orang tua dalam mendidik anak-anak. Efek dari pemikiran ini yang paling nampak di kehidupan sekitar kita adalah dominannya cita-cita generasi muda kita untuk menjadi pegawai negeri dengan menggunakan satu pemikiran hanya untuk memperoleh pensiun di usia tua. Sehingga keinginan cita-cita yang berlebihan itu membunuh imajinasi generasi muda untuk menjadi lebih berharga daripada Pegawai Negeri yang kapasitasnya tentunya terbatas.
      2.      PRIMORDIALISME
Tingkat rata-rata pendidikan sebagian masyarakat kita yang masih dibawa standart, menyebabkan rasa kesukuan yang berlebihan. Hal ini digambarkan dengan banyaknya perang antar suku yang masih banyak terjadi di beberapa daerah. Padahal di negara-negara maju saat ini sedang memikirkan bagaimana mereka berlomba-lomba meninggalkan bumi dan mencari sebuah planet diluar angkasa sebagai tempat tinggal baru, sedangkan di indonesia masih berlomba-lomba untuk mendapat pengakuan sebuah tempat tinggal di bumi.
      3.      LEBIH SUKA SPEKULASI DARIPADA INOVASI
Pola pikir masyarakat Indonesia lebih cenderung untuk spekulasi dari pada inovasi. Hal yang paling mudah diasumsikan adalah: Di Indonesia orang sangat pintar berspekulasi dengan membeli sebuah mobil bekas dengan harapan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi. Atau yang lebih keren lagi beberapa showroom mobil bekas memborong inden sebuah mobil keluaran/model terbaru (misalnya: avanza, maaf bukan promosi) dengan harapan beberapa bulan kedepan harga akan melambung sehingga mereka memperoleh keuntungan lebih tinggi. Keadaan ini bertolak belakang dengan pemikiran orang Jepang yang selalu berpikir tentang sebuah inovasi (pemikiran yang baru) mengenai bagaimana membuat model mobil terbaru yang bisa diminati orang indonesia. Keadaan ini juga lebih gampang ditiru oleh orang-orang disekitarnya karena memang mempunyai dasar pendidikan yang sama.
      4.      TERLALU BANYAK TIPE PEKERJA DARIPADA TIPE PEMIKIR
Ungkapan “membantu orang tua” (membersihkan tempat tidur, menyapu, mencuci, memasak, mengepel) sepertinya sebuah hal yang salah dipersepsikan oleh masyarakat indonesia sebagai hal utama yang menggambarkan sebuah pengabdian seorang anak terhadap orang tua. Dengan ungkapan yang demikian, secara tidak sadar akhirnya kita mengaplikasikan hal tersebut dengan sebuah pekerjaan fisik yang kongkrit. Dan secara tidak sadar selama bertahun-tahun kita terbentuk menjadi pribadi seorang pekerja yang lebih mendominankan kegiatan fisik daripada pikiran. Padahal apabila ungkapan tersebut diganti dengan “bertanggung jawab kepada orang tua” sepertinya makna yang terkandung akan lebih kompleks dan fleksibel. Akhirnya setelah bertahun-tahun kita hanya membiasakan sebuah pekerjaan fisik membentuk karakter kita sebagai seorang pekerja bukan seorang pemikir. Fakta tersebut menjadi suatu perbedaan yang mendasar antara bangsa Indonesia dengan negara maju. Misal di Amerika, orang tua mempunyai hak untuk mengatur seorang anak sampai dengan usia 17 tahun. Lebih dari itu anak mempunyai hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, dan apabila orang tua melanggar hal tersebut bisa dikenakan tuntutan pidana. Sehingga keadaan demikian mengharuskan orang tua untuk membentuk seorang anak untuk tanggung jawab terhadap orang tua. Dengan bertanggung jawab terhadap orang tua secara otomatis akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
      5.      PENDIDIKAN LEBIH CENDERUNG KOGNITIF DARIPADA REALISTIS
Dalam dunia pendidikan kita hanya menghargai seseorang dengan sebuah prestasi akademik. Hal ini banyak digambarkan dengan model pendidikan kita yang selalu formal (ruang kelas mulai SD sampai Kuliah). Dan seorang anak sekolah sampai mahasiswa pun akhirnya hanya mempunyai satu parameter yaitu nilai akademik. Hal ini dalam tataran terendah dicontohkan tingginya budaya mencontek supaya mendapat nilai tinggi, berebut masuk sekolah lanjutan  dengan membayar tinggi, yang lebih memprihatinkan banyaknya pejabat berlomba menyematkan berbagai macam gelar pada namanya untuk dihargai sebagai seorang inteletiual. Hal paling sederhana point ini bisa diasumsikan dengan contoh : seorang anak Indonesia bila ditanya “Pesawat mempunyai berapa sayap? Dua, bila sayapnya yang kiri patah, maka pesawat terbang dengan sayap yang mana? Dengan budaya pendidikan kita seperti sekarang, anak Indonesia akan menjawab : “KANAN” namun jawaban berbeda bila kita menanyakan pada seorang anak Amerika atau Jepang, mereka akan menjawab “pesawatnya akan jatuh.......” karena tidak bisa terbang dengan satu sayap.
      6.      LEBIH SUKA MENILAI ORANG LAIN DARI PADA INTROSPEKSI
Hal ini seolah sangat kita sadari ada dalam diri kita masing-masing, namun yang ironi kita masih sering melakukan hal itu. Karena secara tidak sadar kita mendapat pendidikan dari media televisi yang kita tonton. Produk-produk televisi di Indonesia hanya manghasilkan sebuah karya yang cukup dipahami oleh mata dan telinga kita, akhirnya input hanya sampai pada mata dan telinga. Sehingga outputnyapun sangat mudah yaitu menilai. Artinya adalah segala sesuatu input yang tidak memerlukan proses pemikiran akan menghasilkan sesuatu tanpa proses analisa pemikiran. Kita sering melihat orang disekitar, apabila melihat sebuah tayangan televisi akan dibarengi dengan sebuah penilaian, komentar, ungkapan, umpatan, dll. Dengan budaya seperti ini akhirnya kita menjadi sangat ahli apabila menilai sesuatu diluar diri kita, tetapi sangat jarang mampu menilai diri kita (introspeksi). Hal ini membuat paradigma berpikir dari generasi ke generasi tidak mengalami perubahan/kemajuan.
      7.      KEBANGGAAN KEMERDEKAAN YANG SALAH
“Sebagai bangsa Indonesia kita bangga karena kemerdekaan yang kita peroleh melalui perjuangan, bukan pemberian seperti halnya Malaysia, Australia, India.” Namun apabila kita renungkan kembali, apakah mereka (Malaysia, Australia, India ) bangga dengan kemerdekaan mereka yang diperoleh dari hasil pemberian? Pasti jawabannya “iyaa”. Lantas kebanggaan mana yang sebenarnya adalah sebuah kebanggaan?
Jawabannya adalah, kita selalu menggunakan hal itu hanya sebagai penghibur apabila kita menghadapi konflik sebuah idealisme dengan mereka (Malaysia, Australia, India) tetapi kita tidak tahu bagaimana memaknai ungkapan itu. Apalah gunanya sebuah kebanggan bahwa kita merasa lebih tinggi derajatnya, tetapi kita masih “mengemis” pada mereka dengan menjadi pekerja rumah tangga, karyawan di negara mereka. Tanda tanya itu agaknya belum pernah terjawab dalam hati kecil setiap generasi kita. Sehingga kita hanya bangga, bangga, dan bangga, tanpa merasakan dan melakukan apa-apa. Sedangkan mereka telah merasakan dan menikmati kabanggaan tersebut sebuah kebanggan yang hakiki.

3 komentar:

  1. Hal itu masih diperparah dengan agama-agama impor, cara pandang cara hidup hingga untuk makan pun didekte agama impor, tiap tahun nyetor upeti nyetor muka tanda kesetiaan dengan imbalan fantasi surganya bangsa asing, hingga memusuhi menghancurkan membunuh saudara sebangsa sendiri pun mau demi kesetiaan terhadap agama bangsa asing, menganggap tanah airnya bukan tanah suci malah mensucikan tanah bangsa asing.

    BalasHapus
  2. Awalnya aku hanya mencoba main togel akibat adanya hutang yang sangat banyak dan akhirnya aku buka internet mencari aki yang bisa membantu orang akhirnya di situ lah ak bisa meliat nmor nya AKI NAWE terus aku berpikir aku harus hubungi AKI NAWE meskipun itu dilarang agama ,apa boleh buat nasip sudah jadi bubur,dan akhirnya aku menemukan seorang aki.ternyata alhamdulillah AKI NAWE bisa membantu saya juga dan aku dapat mengubah hidup yang jauh lebih baik berkat bantuan AKI NAWE dgn waktu yang singkat aku sudah membuktikan namanya keajaiban satu hari bisa merubah hidup ,kita yang penting kita tdk boleh putus hasa dan harus berusaha insya allah kita pasti meliat hasil nya sendiri. siapa tau anda berminat silakan hubungi AKI NAWE Di Nmr 085--->"218--->"379--->''259'

    BalasHapus
  3. satu alasan lagi yang membuat indonesia susah maju,yaitu dua komentar diatas atas nama bu sumiasih dan pak slamet.

    BalasHapus