7 Alasan Mengapa Bangsa Indonesia Sulit menjadi Negara maju.
Hal ini mengusik hati saya untuk
mengulasnya agar menjadi suatu perenungan bagi kita semua. Karena kita tahu dan
sering mendengar bahwa bangsa Indonesia mempunyai banyak kepulauan, sebagian
besar adalah lautan (Sumber Alam Terbesar), banyak suku bangsa, banyak bahasa
daerah, dll. Akan tetapi setiap kita berakhir dengan sebuah pertanyaan mengapa
bangsa indonesia sulit menjadi negara maju? Nah disini akan saya tuangkan
beberapa analisa pemikiran saya :
1.
PARADIGMA
IMPERIALISME
Dalam budaya
kita banyak warisan dari imperialisme jaman dulu yang sebenarnya dikondisikan untuk
membelenggu pola pikir masyarakat supaya tidak mempunyai imajinasi. Namun
dengan kemerdekaan yang telah diperoleh pemikiran tersebut masih dipertahankan.
Sebagai contoh :
-
MANGAN GA MANGAN POKOK KUMPUL (makan tidak makan
asal kumpul), ungkapan demikian sebenarnya adalah doktrin yang tidak kita
sadari dibentuk oleh kolonialisme jaman dahulu supaya kita tetap menerima
keadaan apa adanya dan berserah diri pada yang Kuasa tanpa harus menghadapi
resiko.
-
Menjadi Pegawai Negeri. Dan yang lebih parah lagi,
hal tersebut digunakan sebagai pembenaran beberapa orang tua dalam mendidik
anak-anak. Efek dari pemikiran ini yang paling nampak di kehidupan sekitar kita
adalah dominannya cita-cita generasi muda kita untuk menjadi pegawai negeri dengan
menggunakan satu pemikiran hanya untuk memperoleh pensiun di usia tua. Sehingga
keinginan cita-cita yang berlebihan itu membunuh imajinasi generasi muda untuk
menjadi lebih berharga daripada Pegawai Negeri yang kapasitasnya tentunya
terbatas.
2.
PRIMORDIALISME
Tingkat
rata-rata pendidikan sebagian masyarakat kita yang masih dibawa standart,
menyebabkan rasa kesukuan yang berlebihan. Hal ini digambarkan dengan banyaknya
perang antar suku yang masih banyak terjadi di beberapa daerah. Padahal di negara-negara
maju saat ini sedang memikirkan bagaimana mereka berlomba-lomba meninggalkan
bumi dan mencari sebuah planet diluar angkasa sebagai tempat tinggal baru,
sedangkan di indonesia masih berlomba-lomba untuk mendapat pengakuan sebuah tempat
tinggal di bumi.
3.
LEBIH
SUKA SPEKULASI DARIPADA INOVASI
Pola pikir
masyarakat Indonesia lebih cenderung untuk spekulasi dari pada inovasi. Hal
yang paling mudah diasumsikan adalah: Di Indonesia orang sangat
pintar berspekulasi dengan membeli sebuah mobil bekas dengan harapan menjualnya
dengan harga yang lebih tinggi. Atau yang lebih keren lagi beberapa showroom
mobil bekas memborong inden sebuah mobil keluaran/model terbaru (misalnya:
avanza, maaf bukan promosi) dengan harapan beberapa bulan kedepan harga akan
melambung sehingga mereka memperoleh keuntungan lebih tinggi. Keadaan ini
bertolak belakang dengan pemikiran orang Jepang yang selalu berpikir tentang
sebuah inovasi (pemikiran yang baru) mengenai bagaimana membuat model mobil
terbaru yang bisa diminati orang indonesia. Keadaan ini juga lebih gampang
ditiru oleh orang-orang disekitarnya karena memang mempunyai dasar pendidikan
yang sama.
4.
TERLALU
BANYAK TIPE PEKERJA DARIPADA TIPE PEMIKIR
Ungkapan “membantu
orang tua” (membersihkan tempat tidur, menyapu, mencuci, memasak, mengepel) sepertinya
sebuah hal yang salah dipersepsikan oleh masyarakat indonesia sebagai hal utama
yang menggambarkan sebuah pengabdian seorang anak terhadap orang tua. Dengan
ungkapan yang demikian, secara tidak sadar akhirnya kita mengaplikasikan hal
tersebut dengan sebuah pekerjaan fisik yang kongkrit. Dan secara tidak sadar selama
bertahun-tahun kita terbentuk menjadi pribadi seorang pekerja yang lebih
mendominankan kegiatan fisik daripada pikiran. Padahal apabila ungkapan
tersebut diganti dengan “bertanggung jawab kepada orang tua” sepertinya makna
yang terkandung akan lebih kompleks dan fleksibel. Akhirnya setelah bertahun-tahun
kita hanya membiasakan sebuah pekerjaan fisik membentuk karakter kita sebagai seorang
pekerja bukan seorang pemikir. Fakta tersebut menjadi suatu perbedaan yang
mendasar antara bangsa Indonesia dengan negara maju. Misal di Amerika, orang
tua mempunyai hak untuk mengatur seorang anak sampai dengan usia 17 tahun.
Lebih dari itu anak mempunyai hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, dan
apabila orang tua melanggar hal tersebut bisa dikenakan tuntutan pidana.
Sehingga keadaan demikian mengharuskan orang tua untuk membentuk seorang anak
untuk tanggung jawab terhadap orang tua. Dengan bertanggung jawab terhadap
orang tua secara otomatis akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
5.
PENDIDIKAN
LEBIH CENDERUNG KOGNITIF DARIPADA REALISTIS
Dalam dunia
pendidikan kita hanya menghargai seseorang dengan sebuah prestasi akademik. Hal
ini banyak digambarkan dengan model pendidikan kita yang selalu formal (ruang
kelas mulai SD sampai Kuliah). Dan seorang anak sekolah sampai mahasiswa pun
akhirnya hanya mempunyai satu parameter yaitu nilai akademik. Hal ini dalam
tataran terendah dicontohkan tingginya budaya mencontek supaya mendapat nilai
tinggi, berebut masuk sekolah lanjutan dengan
membayar tinggi, yang lebih memprihatinkan banyaknya pejabat berlomba
menyematkan berbagai macam gelar pada namanya untuk dihargai sebagai seorang
inteletiual. Hal paling sederhana point ini bisa diasumsikan dengan contoh :
seorang anak Indonesia bila ditanya “Pesawat
mempunyai berapa sayap? Dua, bila sayapnya yang kiri patah, maka pesawat terbang
dengan sayap yang mana? Dengan budaya pendidikan kita seperti sekarang, anak
Indonesia akan menjawab : “KANAN” namun jawaban berbeda bila kita menanyakan
pada seorang anak Amerika atau Jepang, mereka akan menjawab “pesawatnya akan jatuh.......” karena
tidak bisa terbang dengan satu sayap.
6.
LEBIH
SUKA MENILAI ORANG LAIN DARI PADA INTROSPEKSI
Hal ini seolah
sangat kita sadari ada dalam diri kita masing-masing, namun yang ironi kita
masih sering melakukan hal itu. Karena secara tidak sadar kita mendapat
pendidikan dari media televisi yang kita tonton. Produk-produk televisi di
Indonesia hanya manghasilkan sebuah karya yang cukup dipahami oleh mata dan
telinga kita, akhirnya input hanya sampai pada mata dan telinga. Sehingga
outputnyapun sangat mudah yaitu menilai. Artinya adalah segala sesuatu input
yang tidak memerlukan proses pemikiran akan menghasilkan sesuatu tanpa proses
analisa pemikiran. Kita sering melihat orang disekitar, apabila melihat sebuah
tayangan televisi akan dibarengi dengan sebuah penilaian, komentar, ungkapan,
umpatan, dll. Dengan budaya seperti ini akhirnya kita menjadi sangat ahli
apabila menilai sesuatu diluar diri kita, tetapi sangat jarang mampu menilai
diri kita (introspeksi). Hal ini membuat paradigma berpikir dari generasi ke
generasi tidak mengalami perubahan/kemajuan.
7.
KEBANGGAAN
KEMERDEKAAN YANG SALAH
“Sebagai bangsa
Indonesia kita bangga karena kemerdekaan yang kita peroleh melalui perjuangan,
bukan pemberian seperti halnya Malaysia, Australia, India.” Namun apabila kita
renungkan kembali, apakah mereka (Malaysia, Australia, India ) bangga dengan
kemerdekaan mereka yang diperoleh dari hasil pemberian? Pasti jawabannya “iyaa”.
Lantas kebanggaan mana yang sebenarnya adalah sebuah kebanggaan?
Jawabannya adalah,
kita selalu menggunakan hal itu hanya sebagai penghibur apabila kita menghadapi
konflik sebuah idealisme dengan mereka (Malaysia, Australia, India) tetapi kita
tidak tahu bagaimana memaknai ungkapan itu. Apalah gunanya sebuah kebanggan bahwa
kita merasa lebih tinggi derajatnya, tetapi kita masih “mengemis” pada mereka
dengan menjadi pekerja rumah tangga, karyawan di negara mereka. Tanda tanya itu
agaknya belum pernah terjawab dalam hati kecil setiap generasi kita. Sehingga
kita hanya bangga, bangga, dan bangga, tanpa merasakan dan melakukan apa-apa.
Sedangkan mereka telah merasakan dan menikmati kabanggaan tersebut sebuah
kebanggan yang hakiki.







Hal itu masih diperparah dengan agama-agama impor, cara pandang cara hidup hingga untuk makan pun didekte agama impor, tiap tahun nyetor upeti nyetor muka tanda kesetiaan dengan imbalan fantasi surganya bangsa asing, hingga memusuhi menghancurkan membunuh saudara sebangsa sendiri pun mau demi kesetiaan terhadap agama bangsa asing, menganggap tanah airnya bukan tanah suci malah mensucikan tanah bangsa asing.
BalasHapusAwalnya aku hanya mencoba main togel akibat adanya hutang yang sangat banyak dan akhirnya aku buka internet mencari aki yang bisa membantu orang akhirnya di situ lah ak bisa meliat nmor nya AKI NAWE terus aku berpikir aku harus hubungi AKI NAWE meskipun itu dilarang agama ,apa boleh buat nasip sudah jadi bubur,dan akhirnya aku menemukan seorang aki.ternyata alhamdulillah AKI NAWE bisa membantu saya juga dan aku dapat mengubah hidup yang jauh lebih baik berkat bantuan AKI NAWE dgn waktu yang singkat aku sudah membuktikan namanya keajaiban satu hari bisa merubah hidup ,kita yang penting kita tdk boleh putus hasa dan harus berusaha insya allah kita pasti meliat hasil nya sendiri. siapa tau anda berminat silakan hubungi AKI NAWE Di Nmr 085--->"218--->"379--->''259'
BalasHapussatu alasan lagi yang membuat indonesia susah maju,yaitu dua komentar diatas atas nama bu sumiasih dan pak slamet.
BalasHapus